judul

Sabtu, 24 November 2012







materi kemuhamadiyahan



MATERI
KE-MUHAMMADIYAH-AN
A. Pengertian Muhammadiyah
Muhammadiyah adalah suatu persyarikatan yang merupakan “ Gerakan amar ma’ruf nahi munkar ” yang berasaskan Islam dan bersumber pada Al-Qur’an dan As sunah. Muhammadiyah didirikan di Yogyakarta pada tanggal 18 Nopember 1912 M ( 8 Djulhijjah 1330 H ). Maksud dan tujuan serta usaha Muhammadiyah adalah menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
Usaha muhammadiyah adalah :
1. Menyebarkan agama Islam terutama dengan mempergiat dan menggembirakan tablig
2. Mempergiat dan memperdalam pengkajian ajaran Islam untuk mendapatkan kemurnian dan kebenaran.
3. Mempeteguh iman, mempergiat ibadah, meningkatkan semangat jihad , dan mempertinggi akhlaq
4. Memajukan dan memperbaharui pendidikan dan kebudayaan, mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni serta mempergiat penelitian menurut tuntunan Islam
5. Menggebirakan dan membimbing masyarakat untuk berwakaf serta membangun dan memelihara tempat ibadah
6. Meningkatkan harkat dan martabat manusia menurut tuntunan Islam
7. membina dan menggerakkan angkatan muda sehingga menjadi manusia muslim yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa
8. Membimbing masyarakat kearah perbaikan- perbaikan kehidupan dan mengembangkan ekonomi sesuai dengan ajaran islam
9. Memelihara, melestarikan dan memperdayakan kekayaan alam untuk kesejahteraan masyarakat
10. Membina dan memperdayakan petani, nelayan, pedagang kecil dan buruh untuk meningkatkan taraf hidupnya.
11. Menjalin hubungan kemitraan dengan dunia usaha
12. Membimbing masyarakat dalam menunaikan zakat, infaq, shadaqoh, hibah dan wakaf.
13. Menggerakkan dan menghidu-suburkan amal tolong-menolong dalam kebajikan dan taqwa dalam bidang kesehatan, sosial, pengembangan masyarakat dan keluarga sejahtera.
14. Menumbuhkan dan meningkatkan Ukhuwah Islamiyah dan kekeluargaan dalam Muhammadiyah
15. Menanamkan kesadaran agar tuntunan dan peraturan Islam diamalkan dalam masyarakat
16. Memantapkan kesatuan dan persatuan bangsa serta peran-serta dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
17. Usaha –usaha lain yang sesuai dengan maksud dan tujuan persyarikatan
Anggota Muhammadiyah terdiri dari :
1. Aggota Persyarikatan, ialah Warga Negara Indonesia, beragam Islam, menyetujui dan bersedia melaksanakan maksud dan tujuan persyarikatan
2. Anggota mempunyai hak suara, memilih dan dipilih
3. Peraturan keanggotaan diatur dalam Anggaran Rumah Tangga
Susunan Organisasi
Persyarikatan bergerak dalam wilayah Negara Republik Indonesia
dan tersusun tingkatan sebagai berikut :
1. RANTING,ialah kesatuan anggota dalam satu tempat
2. CABANG, ialah kesatuan Ranting-ranting dalam satu tempat
3. DAERAH, ialah kesatuan Cabang-cabang dalam satu Kabupaten/ Kotamadya
4. WILAYAH, ialah kesatuan Daerah-daerah dalam satu Propinsi
Dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar pada bidang pertama terbagi menjadi dua golongan :
1. Kepada yang telah Islam bersifat pembaharuan ( Tajdid ), yaitu mengembalikan kepada ajaran-ajaran Islam yang asli dan murni
2. Kepada yang belum Islam, bersifat dan ajakan untuk memeluk Agama Islam
B. Dasar Dan Amal Usaha Muhammadiyah
Muhammadiyah mendasarkan segala gerak dan amal usahanya atas prinsip-prinsip yang tersimpul dalam Muqoddimah Anggaran Dasar, yaitu :
1. Hidup manusia harus berdasarkan tauhid, ibadah dan taat kepada Allaoh
2. Hidup manusia bermasyarakat
3. Mematuhi ajaran- ajaran agama islam dengan keyakinan bahwa ajaran Islam itu satu-satunya landasan kepribadian dan ketertiban bersama untuk dunia dan akherat.
4. menegakkan dan menjujung agama Islam dalam masyarakat, adalah kewajiban sebagai ibadah kepada Allah dan ihsan kepada manusia. Ittiba’ kepada langkah perjuangan Nabi Muhammad SAW. Pedoman amal usaha dan perjuangan Muhammadiyah untuk mencapai tujuan tunggalnya, adalah “ berpegang teguh pada ajaran Allah dan Rasul-Nya, bergerak membangun disegenap bidang dan lapangan dengan menggunakan cara serta menempuh jalan yang diridhoi Allah SWT. Muhammadiyah memiliki dan wajib memelihara sifat-sifatnya, terutama yang terjalin di bawah ini
5. Beramal dan berjuang untuk perdamaian dan kesejahteraan
6. Memperbanyak kawan dan mengamankan Ukhuwah Islamiyah
7. Lapang dada dan luas pandangan dengan memegang teguh ajaran Islam
8. Bersifat keagamaan dan bermasyarakat
9. Mengindahkan segala hukum, Undang-Undang, peraturan serta dasar dan falsafah yang syah
10. Amar ma’ruf nahi munkar dalam segala lapangan serta menjadi contoh teladan yang sesuai dengan ajaran agama Islam.
11. Aktif dalam perkembangan masyarakat denga maksud Ishah dan pembangunan sesuai dengan ajaran islam.
12. Kerjasama dengan golongan Islam manapun juga dalam usaha menyiarkan dan mengamalkan agama Islam serta membela kepentinganya.
13. Membantu pemerintah serta kerjasama dengan golongan lain dalam memelihara dan membangun negara untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT.
14. Bersifat adil dan kolektif kedalam dan keluar dengan bijaksana.
Rumusan matan keyakinan dan cita-cita hidup Muhammadiyah :
1. Muhammadiyah adalah Gerakan Islam Dakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar yang berasaskan Islam dan bersumber pada Al- Qur’an dan As Sunnah, bercita-cita dan bekerja untuk terwujudnya measyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
2. Muhammadiyah berkeyakinan bahwa Islam adalah agama Allah yang diwajibkan kepada Rasul-Nya sejak Nabi Adam as hingga Nabi Muhammad SAW
3. Muhammadiyah dalam mengamalkan Islam berdasarkan : Al-Qur’an dan Sunnah Rasul
4. Muhammadiya bekerja untuk terlaksananya ajaran-ajaran Islam yang meliputi bidang-bidang : Aqidah, Akhlak, Ibadah, Muamalah.
5. Muhammadiyah mengajak segenap lapisan masyarakat bangsa dan Indonesia yang telah mendapat karunia Allah berupa tanah air yang mempunyai sumber-sumber telah mendapat karunia Allah berupa tanah air yang punya sumber kekayaan, kemerdekaan bangsa dan negara yang berdasar Pancasila dan UUD 1945 untuk mewujudkan negara adil dan makmur yang ridhoi Allah SWT
“ BALDATUN TAYYIBATUN WA RABBUN GAFURUN ”
C. Visi Muhammadiyah
Ialah “ Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam yang berdasarkan Al Qur’an dan As Sunnah dengan watak tajdid yang dimililkinya senantiasa istiqomah dan aktif dalam melaksanakan da’wah amar ma’ruf nahi munkar di segala bidang sehingga menjadi amatan lil ‘alamin bagi umat, bangsa dan dunia kemanusiaan menuju terciptanya masyarkat Islam yang sebenar-benarnya dalam kehidupan di dunia ini ”
D. Misi Muhammadiyah
1. Menegakkan keyakinan Tauhid yang murni yang sesuai dengan ajaran Allah SWT, yang di bawa oleh Rasul-rasul Allah terdahulu hingga Nabi Muhammad SAW
2. Memahami agama dengan menggunakan akal pikiran sesuai dengan jiwa ajaran islam untuk menjawab dan menyelesaikan persoalan-persoalan kehidupan bersifat duniawi
E. Pokok Kebijakan Program Muhammadiyah
1. Landasan
a. Al Qur’an
b. Prinsip gerakan Muhamadiyah
c. AD/ ART Muhammadiyah
d. Peraturan Organisasi
2. Tujuan
Tercipta kualitas dan keunggulan sumber daya manusia, amal usaha dan gerakan Muhammadiyah.
3. Prinsip Kebijakan
a. Prinsip Da’wah
b. Prinsip Istiqomah
c. Prinsip Kemaslahatan
d. Prinsip Strategis
e. Prinsip Kontinyuitas
f. Prinsip Sistematik
g. Prinsip Flexibilitas
h. Prinsip Efisiensi dan Efektifitas
i. Prinsip Tabsyir dan Taisir

Sejarah singkat tapak suci

Pra Sejarah
Pra-sejarah Tapak Suci telah dimulai sejak lahirnya seorang putera dari K.H. Syuhada, yang bernama Ibrahim, pada tahun 1872 di Banjarnegara (Jawa Tengah). Di usia remaja kemudian Ibrahim belajar pencak. Pemuda Ibrahim kelak kemudian dikenal sebagai pemuda yang aktif menentang penjajahan Belanda. Dengan berbekal ilmu pencaknya, pemuda Ibrahim kerap mengganggu dan melakukan perlawanan terhadap Belanda. Tak ayal hal ini membuatnya kerap menjadi buronan Belanda.
Setelah menikah dengan puteri KH. Ali, Ibrahim kemudian mendirikan Pondok Pesantren Binorong di Banjarnegara. Sepulang dari ibadah haji, Ibrahim berganti nama menjadi KH. Busyro Syuhada.
Pondok Pesantren Binorong, berkembang pesat, diantara santri-santrinya antara lain : Achyat (KH. Burhan) adik misan Ibrahim, M. Yasin (Abu Amar Syuhada) adik kandung, dan Sudirman.
Tahun 1921 dalam konferensi Pemuda Muhammadiyah di Yogyakarta, KH. Busyro bertemu pertama kali dengan dua kakak beradik; A. Dimyati dan M. Wahib. Diawali dengan adu kaweruh antara M. Wahib dengan KH. Burhan, selanjutnya A. Dimyati dan M. Wahib mengangkat KH. Busyro sebagai guru.
Cikauman
Aliran Banjaran, yang pada awalnya dikembangkan melalui Pondok Pesantren Binorong akhirnya pindah ke Kauman, seiring dengan berpindahnya KH. Busyro ke Kauman, Yogyakarta. Selanjutnya atas restu Pendekar Besar KH. Busyro, A. Dimyati dan M.Wahib diizinkan untuk membuka perguruan dan menerima murid. Pada tahun 1925 dibukalah Perguruan Pencak Silat di Kauman, dengan mana CIKAUMAN. Pada waktu itu digariskan dengan tegas dasar yang harus dipatuhi dan dilaksanakan oleh semua murid-muridnya, yaitu:
  1. Cikauman berlandaskan Al Islam dan berjiwa ajaran KH.Ahmad Dahlan, membina pencak silat yang berwatak serta berkripadian Indonesia, bersih dari sesat dan sirik.
  2. Mengabdikan perguruan untuk perjuangan agama serta bangsa dan negara.
  3. Sikap mental dan gerak langkah anak murid harus merupakan tindak-tanduk Kesucian.
Perguruan Cikauman (Kauman-Banjaran), dipimpin langsung oleh Pendekar Besar M. Wahib dan Pendekar Besar A. Dimyati. Murid angkatan pertama adalah M. Djuraimi (Mbah Djur) dan M. Syamsuddin. Kehandalan M. Syamsuddin terletak pada permainan sabetan kaki dan tangan. Hal ini ditunjang oleh postur tubuh M. Syamsuddin yang kekar, karena selain gemar pencak M. Syamsuddin juga seorang pemain sepak bola yang handal.
Setelah dinyatakan lulus dari Perguruan Cikauman, M. Syamsuddin diizinkan untuk menerima murid dan selanjutnya mendirikan Perguruan SERANOMAN.
Seranoman
Perguruan Seranoman melahirkan seorang Pendekar bernama M. Zahid, anak murid Seranoman yang berotak cemerlang dan berkemampuan tinggi, serta pergaulannya luas. Kehandalan M. Zahid bertumpu pada ketajaman gerak. Selain itu beliau berhasil mengembangkan dari 5 menjadi 8 Kembangan, dan berhasil merancang pengajaran keilmuan sehingga keilmuan pencak mudah untuk dimassalkan. Namun sayangnya beliau berpulang ke Rahmatullah sehingga belum sempat mendirikan perguruan baru. Sekalipun begitu M. Zahid sempat melahirkan seorang murid berbakat, yaitu Moh. Barie Irsyad. Selanjutnya Moh. Barie Irsjad dibina langsung oleh A. Dimyati dan M. Wahib.
Pada perkembangan selanjutnya Moh. Barie Irsyad diarahkan untuk menghadapi aliran-aliran hitam. Puncaknya adalah tantangan adu kaweruh melawan aliran hitam dengan taruhan siapa yang kalah harus pergi (terusir) dari Kauman. Di bawah kesaksian Pemuda Muhammadiyah ranting Kauman, pada suatu malam — tepatnya tengah malam, bertempat di pelataran Mesjid Gede Kauman, Yogyakarta, berlangsunglah pertarungan tersebut. Atas izin Allah SWT, seluruh murid menyaksikan bahwa yang bathil tidak akan dapat mengalahkan yang haq. Moh. Barie Irsyad berhasil melumpuhkan ilmu sihir dari aliran hitam.
Pada waktu di bai’at Pendekar Moh. Barie Irsyad berhasil mempertanggung jawabkan 11 Kembangan. Lalu Pendekar Moh. Barrie Irsyad, sebagai murid angkatan ke-6 yang telah dinyatakan lulus dalam menjalani penggemblengan oleh Pendekar M. Zahid, M. Syamsuddin, M. Wahib dan A. Dimyati, kemudian diberi restu untuk menerima murid. Moh. Barie Irsyad kemudian mendirikan Perguruan KASEGU.
Kasegu
Nama Kasegu diambil dari Segu atau Kasegu, yaitu senjata khas yang berlafadz “MUHAMMAD”, diciptakan oleh Pendekar Moh. Barrie Irsyad. Selanjutnya Segu menjadi senjata khas Perguruan TAPAK SUCI. Kasegu juga bermakna “KAuman SErba GUna”. Pada selanjutnya ada orang yang menyebutnya sebagai Kasegu Badai Selatan (mengingat operasionalnya berpusat di bagian selatan Kauman).
Selanjutnya, dalam angkatan ketujuh ini tercatat antara lain:
  1. Murid Cikauman (murid langsung Pendekar M. Wahib): Achmad Djakfar, Moh. Dalhar Suwardi, M. Slamet.
  2. Murid Seranoman (murid langsung Pendekar M. Syamsuddin):M. Zundar Wiesman dan Anis Susanto.
  3. Murid Kasegu (murid langsung Pendekar Moh.Barie Irsyad): Irfan Hadjam, M. Djakfal Kusuma, M. Sobri Ahmad, dan M. Rustam Djundab.
Murid angkatan ketujuh ini mulai berlatih di tahun 1957, biasanya empat kali seminggu mulai pukul delapan (ba’da Isya) sampai mendekati Shubuh.
Lahirnya TAPAK SUCI
Atas desakan murid-murid kepada Pendekar Moh. Barie Irsyad, muncullah gagasan untuk mendirikan satu perguruan yang mengabungkan perguruan yang sejalur (Cikauman, Seranoman dan Kasegu). Namun untuk itu mestilah mendapat dukungan. Atas izin Allah SWT, Pendekar Besar M. Wahib dan para sesepuh aliran pun akhirnya memberikan restunya. Itupun setelah melalui pembuktian-pembuktian keilmuan yang diselenggarakan berkali-kali, dengan pengertian bahwa kelahiran perguruan yang baru kelak bukanlah merupakan suatu aliran yang baru melainkan tetap berakar dari aliran Cikauman (Banjaran-Kauman).
Beberapa ulama dan aktifis Muhammadiyah pun mendukung pendirian perguruan yang dinanti-nantikan ini dengan harapan kelak perguruan pencak yang terorganisir ini dapat menjadi wadah pengkaderan dan wadah silaturahim para ahli pencak di lingkungan Muhammadiyah.
Berbagai perangkat organisasi pun telah disiapkan, antara lain:
  • Nama Perguruan dirumuskan dengan mengambil dasar dari ajaran Perguruan Kauman, maka ditetapkan nama TAPAK SUCI.
  • Tata tertib upacara disusun oleh Moh. Barie Irsyad.
  • Doa dan Ikrar disusun oleh H. Djarnawi Hadikusuma.
  • Lambang Perguruan diciptakan oleh M. Fahmie Ishom.
  • Lambang Anggota diciptakan oleh Suharto Sujak.
  • Lambang Tim Inti Kosegu dibuat oleh Ajib Hamzah.
  • Bentuk dan warna pakaian ditentukan oleh M. Zundar Wiesman dan Anis Susanto.
Kemudian, atas izin dan restu Allah SWT telah menjadi suatu kenyataan sejarah bahwa pada tanggal 31 Juli 1963 di Kauman, Yogyakarta, TAPAK SUCI telah ditakdirkan untuk lahir dan berkembang di seluruh Nusantara dan kelak meluas ke mancanegara, untuk menjadi pelopor pengembangan pencak silat yang methodis dan dinamis. Semuanya ini berkat kebesaran jiwa para Pendekar pendahulu (sesepuh) yang mampu memandang jauh ke depan. Tapak Suci adalah amanat dari Pendekar-pendekar Cikauman (Kauman-Banjaran) kepada generasi penerus bangsa untuk dipelihara, dibina, dan dikembangkan dengan sebaik-baiknya.
Pada waktu lahirnya Tapak Suci, telah digariskan bahwa:
  1. Tapak Suci berjiwa ajaran KH. Ahmad Dahlan
  2. Keilmuan Tapak Suci bersifat Methodis dan Dinamis
  3. Keilmuan Tapak Suci bersih dari syirik dan menyesatkan
Pasca Kelahiran
Tahun-tahun 1960-an kita ketahui bahwa gerakan komunis di Indonesia telah semakin menjadi-jadi di seluruh pelosok negeri. Mereka mengintimidasi kaum Muslim dan menggerogoti kesatuan Bangsa. Hal ini terjadi juga di Kauman. Tak sedikit anak-anak Kauman yang diganggu, sekalipun Kauman sudah menjadi perkampungan Muslim. Maka kehadiran Tapak Suci memberi rasa aman bagi kaum Muslim di situ. Masa-masa awal ini adalah masa-masa perlawanan terhadap gerakan Komunis yang terampil dalam mengintimidasi, menfitnah, dan merusak. Saat itu konsentrasi beladiri Tapak Suci di arahkan untuk menghadapi gerakan komunis. Gerakan anti komunis inipun akhirnya diikuti oleh kelompok-kelompok pemuda yang membentuk sel-sel (kelompok) tersendiri di kampung-kampung lain dalam rangka menggerogoti kekuatan komunis, seperti Benteng Melati di Kampung Kadipaten, Perkasa di Kampung Suronatan, termasuk M. Djuraimi kelak membentuk perguruan Eka Sejati di Kampung Karangkajen, yang seolah sebagai sel dari gerakan di Kauman.
Namun kiranya sepak terjang pemuda-pemuda Tapak Suci dalam menggalang kekuatan melawan komunis, ternyata juga diharapkan kehadirannya di daerah-daerah lainnya, apalagi jika daerah itu merupakan kampung umat Muhammadiyah, atau Tapak Suci dibawa oleh aktifis perguruan keluar daerah. Beberapa wilayah mengajukan permintaan untuk dibuka latihan Tapak Suci. Maka hal inilah yang kelak mendorong lahirnya Tapak Suci di daerah-daerah. Seiring dengan itu masuklah beberapa ahli pencak yang berada di lingkungan Muhammadiyah ke dalam Tapak Suci. Hal ini tentu semakin menyemarakkan gegap gempita Tapak Suci dari sisi organisasi dan keilmuan. Perguruan Tapak Suci yang awalnya hanya di Yogyakarta akhirnya berkembang keluar Yogyakarta dan masuk ke daerah-daerah lainnya.
Setelah meletusnya pemberontakan G30 S/PKI, Tapak Suci kembali ke sarang dan berkonsetrasi kembali pada organisasi. Di tahun 1966 diselenggarakan Konferensi Nasional I Tapak Suci yang dihadiri oleh para utusan Perguruan Tapak Suci yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Pada saat itulah berhasil dirumuskan pemantapan organisasi secara nasional, dan Perguruan Tapak Suci dikembangkan lagi namanya menjadi Gerakan dan Lembaga Perguruan Seni Beladiri Indonesia Tapak Suci Putera Muhammadiyah. Kemudian pada Sidang Tanwir Muhammadiyah di tahun 1967, Tapak Suci Putera Muhammadiyah ditetapkan menjadi organisasi otonom ke-11 di lingkungan Muhammadiyah.
Prestasi olahraga dan seni
Dalam Kejuaraan Nasional I Tapak Suci tahun 1967 di Jember, pertandingan Pencak Silat Tapak Suci dilaksanakan dengan pertarungan bebas. Hal ini bercermin dari tradisi perguruan sejak dulu dalam melakukan sabung (pertarungan) yaitu dengan menggunakan full-body contact, yang mana setiap anggota tubuh adalah sasaran sah untuk diserang, kecuali mata dan kemaluan. Namun ternyata sistem pertarungan seperti itu tidak dapat diterapkan dalam pertandingan olahraga karena dapat mengakibatkan cidera, cacat permanen, bahkan kematian. Maka seiring dengan itu pula maka pasca Kejurnas I di Jember tahun 1967 itu sistem pertandingan olahraga Tapak Suci terus mengalami penyempurnaan demi penyempurnaan, sekalipun hingga beberapa dasawarsa ke depan kemudian, sistem pertandingan olahraga Tapak Suci tetap tidak menggunakan pelindung badan (body-protector), dengan pengertian bahwa “pelindung badan” pesilat Tapak Suci adalah keilmuan dan ketangkasan si pesilat. Pada Kejurnas I di Jember itu pun sudah diperlombakan pencak silat seni, yang mana yang dilombakan adalah Kerapihan Teknik Permainan.
Ketika Tapak Suci memantapkan diri dalam gerakan olahraga dan seni, keilmuan Tapak Suci ditampilkan melalui 4 aspek; mental-spiritual, olahraga, seni, dan beladiri. Adapun ilmu pengebalan tubuh ataupun anggota tubuh berupa alat penyasar, mulai ditinggalkan. Hal ini mengingat adanya anjuran dari Majelis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah agar ilmu tersebut disimpan, kalau toh itu ilmu yan haq, akan tetapi dikhawatirkan dapat menjadi satu kesombongan.
Perguruan Historis IPSI
Pada masa-masa perkembangan Perguruan Tapak Suci yang telah merambah ke persada nusantara, maka dipandang perlu bagi Perguruan Tapak Suci untuk mencari induk organisasi pencak silat. Pada waktu itu sekurang-kurangnya ada tiga organisasi yang menamakan diri sebagai induk organisasi pencak silat Indonesia, yaitu: PPSI yang digerakkan dari Bandung, IPSI yang digerakkan dari Jakarta, dan BAPENSI yang digerakkan dari Yogyakarta, yang masing-masing mencari kekuatan pendukung.
Melalui Rapat Kerja Nasional yang dilaksanakan pada tanggal 19 s.d 20 April 1967 di Pekalongan, disamping memutuskan dan mengesahkan Anggaran Rumah Tangga, Tapak Suci berketetapan hati memilih Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia (sekarang Ikatan Pencak Silat Indonesia) sebagai induk organisasi pencak silat. Untuk itu Tapak Suci didaftarkan kepada PB. IPSI dan langsung diterima menjadi anggota nasional. Kelak kemudian Tapak Suci didudukkan sebagai salah satu dari 10 Perguruan Historis IPSI, mengingat peran Tapak Suci yang menunjang tegak berdirinya PB. IPSI yang kala itu kondisinya sedang kritis.
Kiprah Tapak Suci
Maka kelak kiranya Tapak Suci menjalankan tugas dan peran yang tidak mudah. Di satu sisi Tapak Suci adalah organisasi dakwah yang berinduk ke Muhammadiyah. Di sisi lain Tapak Suci adalah organisasi pencak silat dengan induknya IPSI. Pada dimensi lainnya, Tapak Suci adalah sebuah ilmu beladiri, namun juga merupakan gerakan olahraga dan seni. Hal ini menuntut organisasi dan keilmuan dapat seiring sejalan. Kelak itulah mengapa Sabuk yang terurai pada pesilat Tapak Suci, harus sama panjang di kedua sisi dan tepat jatuhnya di tengah, tidak lebih panjang di satu sisi saja.

Ikrar dan Arti lambang Tapak Suci

microsoft-word-ikrar-dan-lambang-tsdoc

Tidak ada komentar:

Posting Komentar